Cortisol: The stress hormone

Hormon kortisol disebut juga hormon stres. Kortisol diproduksi saat adrenalin Anda terpacu.

Selain berfungsi dalam imunitas tubuh, kortisol memiliki andil dalam beberapa fungsi tubuh seperti:

  • menjaga metabolisme glukosa,
  • mengatur tekanan darah,
  • mengatur jumlah insulin yang dilepaskan dalam darah.

 

Efek samping pengaruh kortisol bagi tubuh antara lain:

  • adanya perasaan permusuhan atau kebencian. Bisa berupa rasa kebencian terhadap orang lain; kebencian terhadap peristiwa tertentu; bahkan kebencian terhadap diri sendiri.
  • Penyakit asam lambung
  • Hilangnya area pandangan yang membuat mata terfokus seperti diselimuti lorong panjang. Gangguan ini disebut gangguan tunnel vision.
  • Kurang tidur, dimana orang tersebut tidak dapat mencapai waktu tidur lebih dari 6 (enam) jam per malam. Gangguan ini disebut sleep deprivation.
  • Melemahkan sistem imun tubuh
  • Melemahkan metabolisme
  • Artritis
  • Kelelahan kronis
  • Hipertensi
  • Depresi
  • Merasa kelaparan. Makanya nggakheran kenapa ada orang tertentu yang pada saat merasa stres malah rasa laparnya meningkat. Pelariannya ke makanan. Makan terus sampai mengakibatkan obesitas. Tapi, pada orang tipe lain ada juga yang saat stres akan kehilangan nafsu makan. Ia tidak mau makan. Sehingga makin lama berat badannya makin turun.
  • Migrain

 

Cara menurunkan kadar hormon kortisol yang tinggi, antara lain:

  • Ambil waktu latihan mengambil nafas panjang, bermeditasi (berdoa tenang dalam hati), akan menurunkan kortisol sebanyak 20 persen.
  • Minumlah secangkir teh hangat.
  • Ambil waktu untuk berkebun.
  • Tertawa lepas seperti anak-anak.
  • Sediakan waktu bermain dengan hewan peliharaan.
  • Buatlah jadwal untuk pijat. Sekali-sekali tubuh Anda perlu di-massage. Ini berguna untuk merelaksasikan otot-otot tubuh Anda yang tegang / tertekan.
  • Bila Anda tidur siang, jumlah kortisol akan turun sebanyak 50 persen.
  • Bila Anda mendengarkan musik/lagu kesukaan Anda, kortisol akan turun sebanyak 50% sampai 66%. Seorang Dokter dari Jepang Osaka Medical Center membuktikan hal ini. Pasien nya yang mendengarkan musik kesukaannya, jumlah kortisol nya menurun lebih banyak daripada Pasien yang hanya relaksasi dalam ruangan hening. Putarlah musik yang tepat (yaitu musik yang Anda sukai) akan membuat tubuh Anda relaks dan mengurangi stres serta tekanan yang jiwa Anda rasakan.

 

Manfaat kortisol

Manusia membutuhkan hormon kortisol. Namun, kebutuhan akan hormon ini hanya dalam tingkat sedang atau sekedar secukupnya saja. Kalau Anda ingin tetap sehat, usahakan jangan terlalu tinggi kadar kortisol dalam tubuh Anda.

 

Manfaat hormon kortisol dalam tingkat sedang:

  • Pasien yang mengalami rasa nyeri tulang belakang kronis yang mengkonsumsi kortisol mengurangi rasa sakitnya hingga 75%.
  • Berdasarkan penelitian Universitas California, wanita yang kortisolnya dipicu pada ukuran yang tepat (yaitu ukuran sedang) dapat membuat nya merasa pada mood(suasana hati) yang baik dalam melakukan hubungan seksual.
  • Berdasarkan penelitian terhadap 90 orang pria yang dilakukan oleh Universitas Wisconsin-Madison, USA, mereka menemukan tingkat kortisol yang sedang (bukan dalam jumlah yang tinggi) menghasilkan daya ingat yang lebih baik. Sebaliknya jika stres terlalu tinggi, efeknya akan sebaliknya, manusia akan sulit mengingat sesuatu.

 

Endorphin: Hormone that makes you feel relaxed

Lain kortisol lain endorfin. Kalau kortisol menyebabkan orang makin tertekan; sebaliknya orang yang hatinya gembira, tubuh nya akan memproduksi hormon endorfin. Endorfin memberi efek relaks, membantu meredakan ketegangan saraf akibat mengalami tekanan yang terlalu besar (stres, depresi).

Zat endorfin adalah senyawa kimia yang membuat kita merasa senang, bahagia dan gembira. Hormon ini bermanfaat memperbaiki imun tubuh. Tubuh kita memproduksi hormon endorfin melalui kelenjar pituitary dan tubuh kita memproduksi hormon endorfin HANYA pada saat kita tertawa, saat kita merasa bahagia dan saat kita beristirahat yang cukup. Jadi, Anda bisa bayangkan seandainya Anda kurang merasa bahagia, maka tubuh Anda pun akan kurang memproduksi hormon ini.

Vaksinasi Virus HPV Penyebab Kanker Cervix

Vaksin kanker serviks sebenarnya adalah vaksin yang bertujuan untuk memberikan kekebalan tubuh (imun) terhadap infeksi virus HPV, sehingga dikenal juga dengan sebutan vaksin HPV.

Kanker serviks disebabkan oleh infeksi virus HPV, khususnya tipe high risk yang terdiri dari virus HPV nomor: 16, 18, 31, 33, 35, 39, 45, 51, 52 dan 58. Namun sebagian besar penyebab kanker serviks adalah virus HPV nomor 16 dan 18.

Ingat, di udara luar ada banyak macam virus HPV. Dan saat ini baru ada dua macam merk vaksin HPV di seluruh dunia, yaitu merk C dan merk G, dengan karakteristik masing-masing, namun dengan tujuan yang sama, yaitu memberikan perlindungan terhadap infeksi HPV nomor 16 dan HPV nomor 18.

Obat vaksin berinisial C berfungsi untuk menangkal virus HPV-16 dan HPV-18; sedangkan vaksin berinisial G berfungsi untuk menangkal virus HPV-6 dan HPV-11. Padahal di luar, di alam bebas, ada banyak macam virus HPV.

Kedua jenis vaksin tersebut mempunyai efektivitas yang sama dalam mencegah kanker serviks; dan sampai sekarang aman untuk diberikan dan telah disetujui untuk dipakai di masyarakat oleh FDA (Food and Drug Administration) USA maupun badan pengawasan obat dan makanan (BPOM) Indonesia.

Oleh karena vaksin HPV yang ada sekarang masih belum memberikan perlindungan terhadap semua jenis virus HPV penyebab kanker serviks, maka alangkah baiknya kalau Anda memberikan diri untuk menerima vaksin HPV.

Vaksin yang tersedia saat ini bertujuan untuk merangsang produksi antibodi tubuh Anda terhadap virus HPV-16 dan HPV-18, yang menjadi biang keladi penyebab utama kanker serviks.

Vaksin HPV yang sudah tersedia dewasa ini antara lain:

  • Vaksin bivalen untuk HPV-16 dan HPV-18.
  • Vaksin quadrivalen untuk HPV nomor 6, 11, 16 dan 18.
  • Vaksin nonavalen untuk HPV nomor 31, 33, 45, 52, dan 58.

Perjalanan perkembangan dari sel normal yang terinfeksi virus HPV sampai menjadi kanker serviks membutuhkan waktu antara sepuluh sampai lima belas tahun dan berjalan perlahan melalui tahapan pra-kanker.

Dan disamping tubuh Anda divaksin HPV, usahakan Anda tetap menjalankan Pap Test rutin setahun sekali.

Vaksinasi HPV bisa diberikan kepada wanita yang berusia minimal 9 (sembilan) tahun atau lebih, dan saat terbaik adalah saat masa remaja. Efektivitas terbaik bila diberikan saat wanita belum pernah melakukan hubungan seks.

Khusus bagi wanita HAMIL, meskipun data menunjukkan bahwa pemberian vaksin HPV tidak berefek fatal pada ibu dan janin, namun sebaiknya vaksin HPV tidak diberikan pada wanita yang sedang hamil ataupun yang berencana hamil. Bila Anda berencana hamil dalam waktu dekat, maka lebih baik Anda menjalani masa kehamilan dulu; dan nanti setelah Anda melahirkan bayi Anda, atau mungkin lebih baik SETELAH melewati masa menyusui bayi Anda, barulah Anda dapat pergi ke Dokter untuk meminta divaksin HPV.

Bila seorang wanita sudah pernah menerima vaksin HPV, lalu jadwal vaksinasi kedua terputus oleh karena hamil, maka wanita tersebut dapat melanjutkan jadwal (vaksinasi HPV) yang tertunda tersebut meski ia sedang menyusui bayi. Walaupun vaksin HPV dikatakan (cukup) aman diberikan kepada ibu yang sedang menyusui bayinya, alangkah lebih baiknya bila vaksin diberikan PASCA menyusui.

Uji efek samping vaksin HPV sebagian besar efek minor dan yang paling sering terjadi adalah nyeri pada bekas suntikan, dan rasa nyeri ini akan hilang sendiri dalam waktu 24jam atau kurang; dan efek demam jarang terjadi.

Dan tidak harus tes pap smear dulu sebelum melakukan vaksinasi. Pap smear bukan syarat mutlak sebelum vaksinasi. Pada wanita yang belum pernah berhubungan seks, sama sekali tidak perlu pap smear. Pada wanita yang sudah pernah melakukan hubungan seks sebaiknya melakukan tes pap smear meskipun bukan syarat oleh karena dengan pemeriksaan pap smear dapat diketahui kondisi serviks sekarang.

Vaksinasi bukan merupakan pengobatan untuk hasil pap smear abnormal. Vaksin HPV merupakan sarana pencegahan terhadap infeksi virus penyebab kanker serviks. Bila diketahui hasil Pap Test abnormal maka dilakukan pengobatan sesuai hasil Pap Test tersebut, pasca pengobatan bisa diberikan vaksinasi untuk menurunkan risiko kanker serviks.

Sampai saat ini antibodi yang dihasilkan tubuh wanita pasca-vaksinasi mampu bertahan sampai sekitar delapan hingga sepuluh tahun, dan diperkirakan akan bertahan dalam waktu yang lebih lama. Sampai saat ini tidak perlu booster (penguat). Jadi, lamanya proteksi yang diberikan oleh vaksin HPV mampu bertahan sampai 8-10 tahun setelah divaksin HPV.

Pemberian vaksinasi terhadap HPV bukan berarti risiko kanker serviks menjadi nol. Melainkan, dengan vaksinasi HPV risiko kanker serviks bisa berkurang sampai 70-80%. Jadi, risiko kanker serviks masih tetap ada, hanya saja jauh berkurang!

Share tulisan ini jika bermanfaat.