Jangan dibiasakan rutin minum jamu/minuman pelancar haid

Menurut nakita.com, nasihat Dokter mengatakan sebaiknya Anda jangan pernah mengatur haid (atau, memperlancar haid) dengan menggunakan jamu-jamuan dan jangan minum obat (pelancar haid). Sebab, mengonsumsi jamu atau obat pelancar haid hanya akan membawa efek samping yang dapat membahayakan kesehatan Anda dan kesehatan reproduksi yang dapat membuat Anda berisiko mengalami susah hamil. Menurut alodokter.com sebaiknya Anda tidak lagi mengkonsumsi jamu-jamu ataupun obat-obatan herbal dengan segala iming-imingnya. Hal tersebut dikarenakan jamu dan obat-obatan tersebut belum terbukti keamanan serta efektivitasnya. Konsumsilah produk-produk yang memang sudah terdaftar dalam BPOM (badan pengawas obat dan makanan). Anda dapat memeriksakan diri Anda ke Dokter spesialis kandungan untuk mengetahui penyebab pastinya. 

Lantas, bila Anda, para wanita, sedang bermasalah dengan siklus haid atau masalah-masalah nyeri perut seputar kewanitaan, apakah Anda boleh minum jamu? Boleh, asalkan dalam batas wajar; artinya, tidak melebihi dosis anjuran. Tapi, jangan dibiasakan rutin minum jamu pada saat tiap kali masalah haid datang.

 

Jamu peluruh haid atau jamu telat bulan dilarang diminum oleh wanita hamil, terutama yang sedang hamil muda. Hamil muda artinya usia kehamilannya masih beberapa minggu. Biasanya usia kehamilan kurang dari 90 hari atau kurang dari 3 bulan, itu disebut hamil muda. Kenapa dilarang diminum wanita hamil? Sebab, jamu tersebut dapat menyebabkan keguguran pada wanita yang sedang hamil muda. Menurut health.detik.com (dalam artikel “Jamu Telat Bulan Sering Disalahgunakan Untuk Aborsi”, 2012), jamu pelancar haid atau jamu telat bulan dapat disalahgunakan orang untuk menggugurkan kandungan (aborsi) akibat kehamilan di luar nikah. Ataupun, pada kasus kehamilan yang tidak dikehendaki, artinya: pasangan tersebut sudah menikah tapi tidak ingin menambah anak. 

Nah, karena jamu peluruh haid dapat menyebabkan wanita sampai keguguran, berarti jamu tersebut dapat digolongkan dalam kategori obat keras. Jadi, Pemerintah (dalam hal ini: Kementerian Kesehatan RI) perlu menyiapkan aturan yang ketat untuk membatasi peredaran jamu-jamu semacam ini, dan tidak dapat dijual bebas di pasaran, demi mencegah penyalahgunaan jamu-jamuan semacam ini untuk keperluan aborsi atau usaha mengakhiri kehamilan.

 

Melalui kisah ini saya tidak mengatakan bahwa jamu/minuman pelancar haid berhubungan langsung dengan cancer cervix atau cancer seputar organ reproduksi wanita lainnya. Tapi, oleh karena cancer cervix berhubungan dengan organ reproduksi wanita (dan lagipula siklus menstruasi wanita berhubungan erat dengan aktivitas hormonal tubuh nya; dan jamu pelancar menstruasi ada kaitannya dengan hormonal wanita), maka hal itu perlu dibahas disini dan dicarikan jalan bagi para wanita untuk sedapat mungkin melakukan pencegahan yang diperlukan.

 

Jadi pembelajaran yang bisa diambil adalah:

  • Sebaiknya Anda jangan membiasakan diri untuk memperlancar haid Anda dengan mengonsumsi jamu-jamuan pelancar haid. Artinya, jangan rutin minum jamu-jamuan. Hal ini perlu Anda lakukan demi menghindari bahaya risiko terkena masalah seputar organ reproduksi, misalnya tetap mengalami menstruasi setelah menopause dan masalah seputar kewanitaan lainnya.
  • Demi menghindari keguguran, pada saat Anda mengalami siklus haid yang tidak lancar atau masalah telat bulan, janganlah Anda buru-buru minum jamu/minuman pelancar haid.
  • Jangan berusaha mengatur siklus haid. Misalnya biasanya Anda mengalami haid di awal bulan; lalu bulan ini ternyata telat datang, katakanlah sebagai contoh, datangnya di minggu-minggu menjelang akhir bulan. Lalu, Anda berusaha mengatur agar haid Anda selalu lancar datang tiap awal bulan dengan minum jamu/obat pelancar haid. Inilah yang tidak boleh Anda lakukan. Jadi, jangan Anda berusaha mengatur siklus haid Anda. Biarkan tubuh Anda, dan bukan Anda, yang mengatur siklus haid yang terjadi pada tubuh Anda.
  • Jangan menyalahgunakan jamu/minuman peluruh haid untuk keperluan menggugurkan kandungan.
  • Bila ada masalah seputar kewanitaan sebaiknya Anda berkonsultasi ke Dokter spesialis kandungan agar segera dicari tahu akar penyebab masalahnya.