Hair dyes dangers health

Pewarna rambut diklasifikasikan tiga golongan, yaitu:

  • Permanen (oksidatif)
  • Semipermanen
  • Temporary (sementara).

 

Cat (pewarna) rambut yang bersifat permanen, yang beredar sekitar 80% produk cat rambut di pasaran, mengandung colorless dye “intermediates” (zat-zat kimia yang disebut aromatic amines) dan dye couplers. Mereka mengandung hydrogen peroksida, intermediates dan couplers yang saling bereaksi satu sama lain membentuk molekul pigmen. Semakin tua warna berarti semakin tinggi konsentrasinya.

Cat rambut yang bersifat semipermanen dan temporary adalah termasuk zat non-oksidatif dan termasuk kandungan warna yang menodai rambut secara langsung.

Sebaiknya hindari pewarna rambut permanen mengingat sifatnya yang oksidatif sehingga dapat menimbulkan risiko cancer, karena ternyata hair dyes ada kaitannya dengan leukemia, cancer kantong kemih dan cancer payudara, bahkan mungkin masih ada cancer lainnya hanya saja saat ini belum ditemukan. (Hair Dyes and Cancer Risk, cancer.gov, dailymail.co.uk)

 

Sebaiknya pilihlah pewarna rambut yang temporary atau yang semi-permanen karena risiko yang ditimbulkannya lebih kecil. Risiko lebih kecil artinya bahaya potensial cancer masih ada, hanya saja tidak sebesar pewarna rambut yang permanen.

Bagi para produsen (industri) pewarna rambut, sebaiknya mereka mulai sekarang memproduksi pewarna rambut yang jauh lebih aman bagi manusia dengan menghindari zat-zat yang membahayakan kesehatan manusia.

Vaksinasi Virus HPV Penyebab Kanker Cervix

Vaksin kanker serviks sebenarnya adalah vaksin yang bertujuan untuk memberikan kekebalan tubuh (imun) terhadap infeksi virus HPV, sehingga dikenal juga dengan sebutan vaksin HPV.

Kanker serviks disebabkan oleh infeksi virus HPV, khususnya tipe high risk yang terdiri dari virus HPV nomor: 16, 18, 31, 33, 35, 39, 45, 51, 52 dan 58. Namun sebagian besar penyebab kanker serviks adalah virus HPV nomor 16 dan 18.

Ingat, di udara luar ada banyak macam virus HPV. Dan saat ini baru ada dua macam merk vaksin HPV di seluruh dunia, yaitu merk C dan merk G, dengan karakteristik masing-masing, namun dengan tujuan yang sama, yaitu memberikan perlindungan terhadap infeksi HPV nomor 16 dan HPV nomor 18.

Obat vaksin berinisial C berfungsi untuk menangkal virus HPV-16 dan HPV-18; sedangkan vaksin berinisial G berfungsi untuk menangkal virus HPV-6 dan HPV-11. Padahal di luar, di alam bebas, ada banyak macam virus HPV.

Kedua jenis vaksin tersebut mempunyai efektivitas yang sama dalam mencegah kanker serviks; dan sampai sekarang aman untuk diberikan dan telah disetujui untuk dipakai di masyarakat oleh FDA (Food and Drug Administration) USA maupun badan pengawasan obat dan makanan (BPOM) Indonesia.

Oleh karena vaksin HPV yang ada sekarang masih belum memberikan perlindungan terhadap semua jenis virus HPV penyebab kanker serviks, maka alangkah baiknya kalau Anda memberikan diri untuk menerima vaksin HPV.

Vaksin yang tersedia saat ini bertujuan untuk merangsang produksi antibodi tubuh Anda terhadap virus HPV-16 dan HPV-18, yang menjadi biang keladi penyebab utama kanker serviks.

Vaksin HPV yang sudah tersedia dewasa ini antara lain:

  • Vaksin bivalen untuk HPV-16 dan HPV-18.
  • Vaksin quadrivalen untuk HPV nomor 6, 11, 16 dan 18.
  • Vaksin nonavalen untuk HPV nomor 31, 33, 45, 52, dan 58.

Perjalanan perkembangan dari sel normal yang terinfeksi virus HPV sampai menjadi kanker serviks membutuhkan waktu antara sepuluh sampai lima belas tahun dan berjalan perlahan melalui tahapan pra-kanker.

Dan disamping tubuh Anda divaksin HPV, usahakan Anda tetap menjalankan Pap Test rutin setahun sekali.

Vaksinasi HPV bisa diberikan kepada wanita yang berusia minimal 9 (sembilan) tahun atau lebih, dan saat terbaik adalah saat masa remaja. Efektivitas terbaik bila diberikan saat wanita belum pernah melakukan hubungan seks.

Khusus bagi wanita HAMIL, meskipun data menunjukkan bahwa pemberian vaksin HPV tidak berefek fatal pada ibu dan janin, namun sebaiknya vaksin HPV tidak diberikan pada wanita yang sedang hamil ataupun yang berencana hamil. Bila Anda berencana hamil dalam waktu dekat, maka lebih baik Anda menjalani masa kehamilan dulu; dan nanti setelah Anda melahirkan bayi Anda, atau mungkin lebih baik SETELAH melewati masa menyusui bayi Anda, barulah Anda dapat pergi ke Dokter untuk meminta divaksin HPV.

Bila seorang wanita sudah pernah menerima vaksin HPV, lalu jadwal vaksinasi kedua terputus oleh karena hamil, maka wanita tersebut dapat melanjutkan jadwal (vaksinasi HPV) yang tertunda tersebut meski ia sedang menyusui bayi. Walaupun vaksin HPV dikatakan (cukup) aman diberikan kepada ibu yang sedang menyusui bayinya, alangkah lebih baiknya bila vaksin diberikan PASCA menyusui.

Uji efek samping vaksin HPV sebagian besar efek minor dan yang paling sering terjadi adalah nyeri pada bekas suntikan, dan rasa nyeri ini akan hilang sendiri dalam waktu 24jam atau kurang; dan efek demam jarang terjadi.

Dan tidak harus tes pap smear dulu sebelum melakukan vaksinasi. Pap smear bukan syarat mutlak sebelum vaksinasi. Pada wanita yang belum pernah berhubungan seks, sama sekali tidak perlu pap smear. Pada wanita yang sudah pernah melakukan hubungan seks sebaiknya melakukan tes pap smear meskipun bukan syarat oleh karena dengan pemeriksaan pap smear dapat diketahui kondisi serviks sekarang.

Vaksinasi bukan merupakan pengobatan untuk hasil pap smear abnormal. Vaksin HPV merupakan sarana pencegahan terhadap infeksi virus penyebab kanker serviks. Bila diketahui hasil Pap Test abnormal maka dilakukan pengobatan sesuai hasil Pap Test tersebut, pasca pengobatan bisa diberikan vaksinasi untuk menurunkan risiko kanker serviks.

Sampai saat ini antibodi yang dihasilkan tubuh wanita pasca-vaksinasi mampu bertahan sampai sekitar delapan hingga sepuluh tahun, dan diperkirakan akan bertahan dalam waktu yang lebih lama. Sampai saat ini tidak perlu booster (penguat). Jadi, lamanya proteksi yang diberikan oleh vaksin HPV mampu bertahan sampai 8-10 tahun setelah divaksin HPV.

Pemberian vaksinasi terhadap HPV bukan berarti risiko kanker serviks menjadi nol. Melainkan, dengan vaksinasi HPV risiko kanker serviks bisa berkurang sampai 70-80%. Jadi, risiko kanker serviks masih tetap ada, hanya saja jauh berkurang!

Share tulisan ini jika bermanfaat.

 

Pengetahuan awal tentang kanker

Sebagai orang biasa yang masih buta tentang kanker, kita perlu membekali diri kita dengan berbagai pengetahuan tentang kanker.

Tujuannya hanya satu, yaitu agar kita dapat sedini mungkin menghindarkan diri dari penyakit yang belum ada obatnya ini.

Berikut ini kita akan menonton video bagus yang dapat membekali diri kita pengetahuan awal tentang penyakit yang satu ini.

Selamat menonton! Share jika bermanfaat.

Sharing pasien kanker: bagaimana kamu mencari tahu dirimu mengidap kanker atau tidak

Bagaimana kamu mencari tahu dirimu mengidap kanker atau tidak.

Sebuah sharing dari pasien kanker yang menceritakan bagaimana jalannya ia mendeteksi dirinya terhadap kanker.

Perhatikan tes atau ujian apa saja yang ia telah jalani untuk pemeriksaan kesehatannya. Bahan-bahan (tes) ini bisa jadi pertimbangan Anda dalam menempuh cara pendeteksian kanker.

Simak video berikut.