Obat analgesik (painkiller) bagi pasien kanker

Sewaktu Ibunda saya menderita sakit kanker di sepanjang tahun 2014 sampai pertengahan Januari 2015 lalu, salah satu obat yang paling saya terekam dalam ingatan (memori) saya adalah MST Continus.

Obat ini adalah sejenis morfin. Tetapi morfin ini halal sebab ini morfin farmasi untuk tujuan menolong Pasien kanker mengatasi rasa nyeri hebat yang konstan.

Untuk mendapatkan obat ini tidak gampang dan hanya dapat diberikan dalam kondisi serius dan sangat khusus. Di samping harganya yang cukup mahal, juga prosedurnya cukup ribet. Sebab untuk bisa mendapatkan obat ini kita tidak bisa langsung datang ke apotek untuk membeli dengan bebas.

Sebab kita harus mendapatkan rekomendasi dokter bahwa si pasien memang benar-benar membutuhkannya.

Dan pada saat datang ke apotek pun, kita tidak dapat membeli dengan bebas, tetapi kita harus membawa bukti KTP si Pasien dan KTP Saya untuk menunjukkan bahwa Saya betul-betul anggota keluarga terdekat dari Pasien (dalam hal ini: Saya bertindak sebagai anaknya).

 

Gambar obat MST Continus 10mg tablet

 

Dan informasi yang penulis dapat dari sumber: http://www.farmasi-id.com/mst-continus/ (diakses 26november2016 jam 21.48) obat ini sebenarnya merupakan salah satu jenis morfin untuk keperluan pengobatan medis pada Pasien yang menderita nyeri hebat. Kandungan utama obat ini adalah morfin sulfat dalam dosis ringan. Obat ini digolongkan ke dalam kelompok O (obat narkotik) karena ia bersifat adiktif (menyebabkan kecanduan).

 

Dosis:

MST harus diberikan dalam dosis efektif terkecil dan frekuensi minimal untuk mengurangi timbulnya toleran dan ketergantungan fisik.

  1. Penggunaan pada Pasien yang sebelumnya tidak pernah memakai opioid: diawali dengan dosis 10-15mg. Dosis pada hari-hari selanjutnya disesuaikan (ditingkatkan atau dikurangi) guna mendapat efek pereda nyeri selama 12jam.
  2. Khusus untuk rasa nyeri yang sudah tidak dapat dikontrol dengan opioid yang lebih lemah: diawali dengan dosis awal 20-30mg tiap 12jam. Dosis yang lebih tinggi mungkin diperlukan untuk penderita dengan berat badan 70kg atau lebih. Dosis pada hari-hari selanjutnya disesuaikan (ditingkatkan atau dikurangi) guna mendapat efek pereda nyeri selama 12jam.

 

Catatan penting:

Dosis harus diturunkan pada:

  • Pasien berisiko,
  • Pasien yang menderita gangguan hati,
  • Pasien yang menggunakan antidepresan saraf,
  • Pasien yang punya gangguan ginjal,
  • Pasien yang usianya masih sangat muda
  • Pasien yang lanjut usia.
  • Pasien dengan nyeri yang parah & kronis, dosis harus disesuaikan dengan tingkat keparahan nyeri, respon dan toleransi pasien.
 

Mekanisme kerja:

Berikatan dengan reseptor di sistem saraf pusat, mempengaruhi persepsi dan respon terhadap nyeri.

 

Pemberian obat (Cara minum): Dapat diberikan bersama atau tanpa makanan, dan obat harus ditelan utuh, jangan dibagi ataupun dikunyah ataupun dihancurkan.

 

Interaksi dengan obat lain:

Obat yang bekerja pada Saluran Saraf Pusat, seperti antidepresan, transkuilizer, dan hipnotik sedative

Antidepresan (MAOI dan Trisklik): potensiasi efek antidepresan.

Agonis opiod lainnya, anestetik umum, trankuilizer, sedative, hipnotik: potensiasi efek depresi sistem saraf pusat.

Relaksan otot: opioid dapat meningkatkan kerja penghambat neuromuscular.

Kumarin antikoagulan: potensiasi aktivitas antikoagulan.

Diuretik: opioid menurunkan efek diuretic pada pasien dengan kongestif jantung.

Amfetamin: dekstroamfetamin dapat meningkatkan efek analgetik agonis opioid

 

Interaksi dengan makanan: Nihil. Artinya: aman.

 

Kategori indeks keamanan pada wanita hamil:

Kategori C dan D. Harap baca detil dibawah ini.

C: Studi penelitian pada hewan percobaan telah memperlihatkan adanya efek samping pada janin (teratogenik atau embroisidal atau lainnya) dan belum ada studi penelitian yang terkendali pada wanita atau studi penelitian pada wanita dan hewan percobaan belum tersedia (baca: tidak dapat dilakukan). Obat seharusnya hanya boleh diberikan jika hanya besarnya manfaat yang diharapkan melebihi besarnya risiko (baca: bahaya potensial) pada janin.

 

Atau, jika digunakan untuk waktu lama atau dosis tinggi pada akhir masa kehamilan:

D: Ada bukti positif mengenai risiko pada janin manusia, tetapi manfaat dari penggunaan obat ini pada wanita hamil dapat diterima, meskipun berisiko pada janin (misalnya jika obat diperlukan untuk mengatasi situasi yang mengancam jiwa atau untuk penyakit serius dimana obat yang lebih aman tidak dapat digunakan atau tidak efektif).

 

 

Penting diketahui:

Risiko (baca: bahaya potensial) yang mungkin saja dapat terjadi pada diri Pasien bila minum obat MST Continus dalam jangka waktu lama:

 

Efek samping yang mungkin terjadi:

  1. somnolen (ketagihan tidur);
  2. konfusi (kebingungan);
  3. halusinasi;
  4. euforia (keadaan emosi yang gembira berlebihan).
  5. Pada sistem pernafasan bisa terjadi: Hipoventilasi, Depresi pernapasan
  6. Pada sistem saraf bisa terjadi: sakit kepala, gangguan penglihatan, vertigo, depresi, rasa mengantuk, koma, eforia, disforia, lemah, agitasi, ketegangan, kejang
  7. Pada sistem pencernaan bisa terjadi: mual, muntah, konstipasi (sembelit, susah buang air besar)
  8. Pada sistem kardiovaskular bisa terjadi: aritmia, hipotensi postural
  9. Pada sistem reproduksi, ekskresi & endokrin bisa terjadi: retensi urin, oliguria
  10. Efek kolinergik yang mungkin terjadi: bradikardia, mulut kering, palpitasi, takikardia, tremor otot, pergerakan yang tidak terkoordinasi, delirium atau disorientasi, halusinasi
  11. Lain-lain: berkeringat, muka merah, pruritus, urtikaria, ruam kulit

 

Kontraindikasi

  • Kemungkinan bisa terjadi:
  1. depresi pernafasan,
  2. penyakit obstruksi (penyumbatan) saluran pernafasan,
  3. penyakit hati akut,
  4. ileus paralitik,
  5. penggunaan bersama dengan MAOI*  (atau dalam waktu 2minggu setelah menggunakan MAOI) atau obat lain yang bekerja pada Saluran Saraf Pusat.

*Catatan: MAOI singkatan dari Penghambat Mono Amin Oksidase.

 

Obat ini bukan untuk:

  • mengobati nyeri pasca-operasi.
  • wanita hamil.
  • pasien dengan hipersensitivitas,
  • pasien dengan depresi pernapasan yang parah.
  • Injeksi intratekal & epidural tidak boleh digunakan pada kasus pemberian yang kontraindikasi dengan rute ini, seperti infeksi pada tempat penyuntikan, perdarahan diatesis yang tidak terkontrol, penggunaan antikoagulan atau penggunaan kortikosteroid injeksi dalam 2 minggu.

 

Bentuk Sediaan:

  • MST Continus tablet 10mg
  • MST Continus tablet 15mg